Spirit melawan arus Throw away society adalah salah satu pesan yang ada dalam salah satu bab di kisah cinta Keydo dan Kinang nan tragis itu.

Adakah di dunia jaman now yang serba tidak kilat? tidak bergegas? Tidak serba instant?

Istilah “Perlahan tapi pasti”pun sirna berganti “Kalau bisa cepat mengapa harus lambat?” Atau “Biar cepat, asal selamat”. Bagaimana kita bicara ikhtiar? Menghargai proses? jika semua mata hanya menatap hasil, result oriented?

Tak aneh jika sekarang kita dicecoki produk-produk disposable. Sekali pakai buang. Makanan yang terlaris adalah makanan instant. Ibu-ibu muda tak ada lagi yang terampil membuat sendiri bubur untuk bayinya. Karena di toko bertabur produk instant. Susu instant, mie instant, bubur bayi instant hingga suami-istri eh pasangan bercintapun instant lewat roomchat pelarian orang-orang kesepian.

Akibatnya anak-anak juga tak lagi berlatih menahan diri, menghargai proses. Di sana sini bertaburan tawaran hidup enak. Pun bimbel yang mengusung rumus-rumus kilat. Untuk cara cepat beroleh nilai kinclong. Sinetronpun mendukung mengajarkan step by step bagaimana merayu guru jika ingin nilai bagus. Bukannya diajarkan bagaimana tekun dan gigihnya menuntut ilmu.

Semua begitu mudah diperoleh tanpa kerja keras. Lapar tak perlu masak. Tinggal 3 kali klik aplikasi delivery order, makanan hangat tersaji. Masihkah ada gadis jaman kini yang bisa mengolah puluhan rempah asli Nusantara yang kaya citarasa dan manfaat?

Baju robek sedikit atau lepas sedikit jahitannya langsung buang. Makanan mahalpun jika ada 1 semut kecil, anak kita jejeritan langsung buang. Mengapa? Karena semua serba mudah dipinta, mudah didapat pula.

Pasar-pasar tradisional yang melibatkan orang-orang kecil kaya proses tawar menawar dalam bertransaksi mulai disingkirkan. Beralih ke swalayan milik orang kaya yang miskin tegur sapa dan menjauhkan produsen dari konsumennya.

Angka perceraian juga meningkat tajam di jaman now. Konon di satu daerah ada yang 70% naik setahun.

Istri salah dikit langsung ditalak. Suami abai sedikit langsung minta cerai. Biro-biro penasehat perkawinan/perceraian tak lagi ramai didatangi pasangan bermasalah.
Karena pengacara perceraian memasang iklan di mana-mana. Spirit yang ditawarkan adalah PERCERAIAN dengan memenangkan harta gono-gini. Aduh mirisnya hati. Kemana pergi rasa cinta selama ini?

Ah semoga saja di arus yang semakin menggila ini masih ada pribadi-pribadi pemberani yang kuat melawan arus.

Yang masih pede memakai baju, dan menghidangkan makanan di meja makan produk tangannya sendiri.

Suami yang mengapresiasi pengorbanan dan doa-doa istri di balik suksesnya.
Istri yang setia dan mensyukuri semua perjuangan dan capaian suaminya.

Anak-anak yang memuliakan orang tua, insan-insan sederhana yang bangga dan bersyukur dengan semua karunia hidup yang tak terbilang banyak dan indahnya.

Ya Rabbi, jika di dunia ini hanya tersisa seribu makhluk yang berani melawan arus kebanyakan itu, jadikan hamba seorang di antaranya.
Jika yang tersisa seratus, mohon jadikan hamba 1 dari seratus itu.
Jika mereka hanya sepuluh, mohon masukkan hamba ke dalam kelompok 10 itu.
Namun jika Engkau menyisakan satu, mohon pilihlah hamba menjadi yang satu itu

Buku Keydo

Bukittinggi berkabut, 24 Februari 2018