IMG_20170816_053846_212

 

PADA SIAPA RISAU INI KUKABARKAN.
(Tatty Elmir)

Pada siapa risau ini kukabarkan.
72 tahun Indonesia merdeka,
Ternyata tak hanya kabar baik menyapa Bangsa kita.
Rupiah yang dicetak penuh warna,
Tak ada harga dibanding uang orang yang hanya hitam putih saja.

Pada siapa risau ini kukabarkan,
Anak dan remaja penghuni sepertiga negeri ini.
Yang mestinya terawat dan terjaga,
Kini dihantam badai yang memilukan.
Setiap hari, 50 orang terancam mati sia-sia karena narkoba.
Setiap hari pula 150 ribu pekerja seks komersial menjajakan maksiat dan sepertiganya adalah anak-anak yang belum genap dosa.

Pada siapa risau ini kukabarkan
Badai pornografi yang menyelip di tengah gempitanya kemajuan teknologi setelah era reformasi,
Telah mengantarkan anak-anak menjadi penjahat yang tak punya hati.

Kejahatan seksual kini marak di semua propinsi.
Anak-anak yang kecanduan itu,
Tidak hanya memperkosa anak tetangga,
Namun juga saudara kandung
Bahkan Ibunya sendiri.
Mak, azab apa lagi ini?

Kini anak-anak tidak lagi sekedar korban,
Namun pelaku dan otak kejahatan.
Belum lagi  2,4 juta angka aborsi pertahun, Yang sepertiganya dilakukan pelajar putri kenyes-kenyes…kinyi-kinyi.
Bagaimana kita bicara masa depan negeri?

Pada siapa risau ini kukabarkan,
Bangsa dan negara yang didirikan oleh para pejuang yang juga pecinta literasi,
Yang membawa buku kemana pun mereka pergi,
Kini tak lagi menjadi sosok yang diteladani.
Hanya 1 dari seribu anak negeri yang gemar membaca buku.
Bagaimana bangsa ini bisa dekat dengan ilmu?

Pada siapa risau ini kukabarkan, negeri kaya dengan 17 ribu lebih pulaunya,
Dan pencetak 5 terbanyak sarjana di dunia,
Tapi pengangguran meledak di mana-mana,
Ironisnya para kuli asing bertebaran sangat leluasa.

72 tahun Indonesia merdeka
Sudahkah terwujud cita-cita mulia yang dulu selalu menggema?
Bagaimana bisa mandiri dalam ekonomi
jika produksi dalam negeri tidak dilindungi, angka impor semakin tinggi.
Industri dan pengrajin lokal, terkapar.. menggelepar..
Lalu mati.

Bagaimana bisa berdaulat dalam politik, Jika rentenir tersamar maupun yang sudah go public
bebas merdeka mengutak atik.

Bagaimana bicara berkepribadian dalam kebudayaan,
jika musik pop Korea lebih dihargai
Ketimbang memberi ruang untuk pemusik dari 1.300 kelompok etnik yang kini semakin tak dilirik.

Pada siapa risau ini kukabarkan
Pada siapa risau ini kukabarkan ??

 

(Jakarta, Agustus 2017)